Kamis, 28 Mei 2015

INDONESIA 1800-1850

Nama : MARSINTA ULI
Npm : 13020017

INDONESIA 1800-1850
A.    Indonesia pada akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19
1.     Hapusnya kekuasaan VOC di Indonesia dan peta politik akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19
Pada pertengahan abad ke-18 VOC mengalami kemunduran karena beberapa sebab sehingga dibubarkan :
a.      Banyaknya pegawai VOC yang curang dan korupsi
b.     Banyaknya pengeluaran untuk biaya peperangan, contoh ; peperangan melawan Hasanuddin dari Gowa
c.      Banyaknya gaji yang harus dibayar karena kekuasaan yang luas membutuhkan pegawai yang banyak
d.     Pembayaran devident (keuntungan) bagi pemegang saham turut memberatkan setelah pepasukan VOC kekurangan.
e.      Bertambagnya saingan dagang di asia terutama inggris dan prancis
f.      Perubahan politik dibelanda dengan berdirinya Republik Bataaf 1795 yang demokratis dan liberal menganjurkan berdagang bebas .
Berdasarkan alasan diatas VOC dan kekuasaanya dihapuskan pada tanggal 31 desember 1799 dengan hutang 136,7 juta gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor dagang, gudang, benteng, kapal serta daerah kekuasaan di indonesia.[1]
Setelah VOC dihapuskan pada akhir abad ke 18 dan setelah kekuasaan Britania yang pendek dibawah Thomas stamford Raffles, pemerintah belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Sebuah pemberontakan dijawa berhasil ditumpaskan dalam perang diponegoro pada tahun 1825-1830. Setelah tahun 1830 sistem tanam paksa mulai diterapkan. [2]
Pada dasarnya sistem tanam paksa ini, yang selama zaman belanda terkenal dengan nama Cultuurstelsel berarti pemulihan  sistem exploatasi berupa penyerahan-penyerahan wajib yang pernah dipraktekkan oleh VOC dahulu. Dalam sistem ini, para penduduk dipaksa menanam tanaman-tanaman perdagangan untuk diexport ke pasar dunia. Pada saat itu seperti teh, kopi, dll. Sistem ini membawa kekayaan besar kepada para pelaksanaannya baik yang belanda maupun  yang indonesia. [3]
Dengan diperkenalkannya tanaman-tanaman ekspor ini maka masyarakat dapat mengetahui tanaman apa saja yang bernilai jual tinggi dipasaran internasional. Dengan bertambahnya pengetahuan masyarakat tradisional tentang tanaman eksport, maka tentunya etos kerja masyarakat akan mengalami peningkatan. Belanda menyuruh rakyat untuk menanam tanaman dagang yang bernilai jual untuk di ekspor belanda. Dengan ini rakyat mulai mengenal tanaman ekspor, diperkenalkanya mata uang secara besar-besaran sampai lapisan terbawah masyarakat jawa. Perluasan jaringan jalan raya. Meskipun tujuannya bukan menaikkan taraf hidup masyarakat indonesia melainkan guna kepentingan pemerintah belanda sendiri, tetapi hal ini menciptakan kegiatan ekonomi baru orang jawa dan memungkinkan pergerakan penduduk desa masuk kedalam berbagai kegiatan yang berkaitan denagan uang.
Penentangan tanam paksa juga tidak dapat dielakkan, terbukti para tokoh-tokoh yang mempunyai kepentinga tersendiri juga menentang sistem tanam paksa dan memperkarakan keuntungan yang didapat oleh pihak belanda. Dengan melihat angka keuntungan pemerintah belanda maka dapat dikatakan bahwa sistem tanam paksa mampu membangkitkan perekonomian belanda. Maka pada pertengahan abad ke 19 golongan liberal pada pemerintah belanda menyerukan untuk menghapus sistem tanam paksa di indonesia dan menggantikannya dengan modal swasta dan kerja bebas. Dalam tahun-tahun 1860-an desakan itu menjadi kuat. Perubahan nyata muncul ketika pemerintah konservatif yang mendukung sistem tanam paksa jatuh pada tahun 1860. Pemerintah baru yang dibentuk oleh kaum liberan sejak 1962 mulai mengadakan perubahan mendasar sehingga menjelang abad ke-20 seluruh sistem lenyap.
Pada tahun 1901pihak belanda mengadopsi apa yang mereka sebut politik etis (bahasa belanda; ethische politiek), yang termasuk ivestasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Dibawah gubernur jendral Jbvan Heutsz pemerintah hindia-belanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara langsung di sepanjang hindia-belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara indonesia saat ini.
2.     Pandangan-pandangan belanda tentang sistem pengelolaan daerah koloni (konservativ dan liberal)
Parlemen Belanda yang terdiri dari golongan konservatif dan golongan liberal memiliki pandangan yang berbeda dalam situasi ini. Golongan konservatif menganggap bahwa eksploitasi yang dijalankan ditanah kolonisudah sesuai dengan tuntunan situasi, sementara sistem eksploitasi yang dikonsepkan oleh golongan liberal belum sepenuhnya meyakinkan pemerintah. Golongan liberal sendiri terdapat dua pendapat yaitu yang amsih mempertahankan prinsip liberal seperti kebebasan berusaha dan campur tangan yang minimal dari pemerintahan dan gol[4]ongan libaral yang menekankan pada prinsip humaniter dan menginterprestasikan prinsip liberal sebagai prinsip bemberi keadilan dan perlindungan bagi semua kepentingan. Dalam kondisi perpecahan di golongan liberal, pihak konservatif akhirnya bisa menyakinkan pemerintah bahwa sistem kompeni terbukti dapat dilaksanakan didaerah jajahan dan lebih efektif sementara sistem liberal tidak dapat dilaksanakan dinegeri jajahan karena tidak sesuai dengan kondisi ekonomi lokal. Dengan kalahnya golongan liberal maka pembangunan ekonomi cultuurstelsel pemerintah kolonial belanda dimulai.

Daftar pustaka
Kartodirdjo,sartono,1999. Sejarah pergerakan nasional.jakarta : gramedia.
Kartodidjo, m.joened,1975. Sejarah nasional indonesia lv. Balai pustaka.
R.Z. leirissa.2012.sejarah perekonomian indonesia. Yogyakarta : Ombak




Kartodirdjo,sartono,1999. Sejarah pergerakan nasional.jakarta : gramedia.hal 75
Kartodidjo, m.joened,1975. Sejarah nasional indonesia lv. Balai pustaka. Hal 67-76
[3] G. Gonggrijp,op.cit,.111
Robert van niel,op.cit,.98
Ibid,98
Kartodirdjo,sartono,1999. Sejarah pergerakan nasional.jakarta : gramedia.hal 76-77
Kartodidjo, m.joened,1975. Sejarah nasional indonesia lv. Balai pustaka. Hal 67-76

Tidak ada komentar:

Posting Komentar